Kamis, 27 Desember 2012

bahan pakan ternak

Materi  Perkuliahan Bahan Pakan
Ir. Anie Asriany, MSi

PENDAHULUAN

Salah satu faktor utama untuk dapat meningkatkan produksi dan produktivitas ternak ruminansia  adalah dengan menjamin ketersediaan dan kontinyuitas hijauan pakan ternak. Untuk itu perlu diwujudkan adanya lahan yang cukup dan dapat digunakan sebagai kebun hijauan pakan ternak. Lahan tersebut bisa berupa pembukaan lahan baru, atau pemanfaatan secara maksimal lahan yang sudah ada. Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah melaksanakan perawatan kebun rumput secara kontinyu yang meliputi: perawatan saluran drainase, pengaturan pengairan, pembabatan gulma, pendangiran dan penyulaman serta melaksanakan pemupukan baik pupuk organik maupun an-organik serta melaksanakan pengawetan hijauan pakan ternak baik secara basah (silase) maupun secara kering (hay).
Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia, sehingga untuk meningkatkan produksi ternak ruminansia harus diikuti oleh peningkatan penyediaan hijauan pakan yang cukup baik dalam jumlah maupun kualitas.  Hijauan pakan ternak yang umum diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan.
Menurut Siregar (1994), hijauan diartikan sebagai pakan yang mengandung serat kasar, atau bahan yang tak tercerna, relatif tinggi. Lebih Lanjut dijelaskan bahwa ternak ruminansia membutuhkan sejumlah serat kasar dalam ransumnya agar proses pencernaan berjalan secara lancar dan optimal. Sumber utama dari serat kasar itu sendiri adalah hijauan
Sebagai pakan ternak ruminansia, hijauan pakan mempunyai peranan yang sangat penting yaitu: 1) Mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan; 2) Khususnya di Indonesia, bahan pakan  hijauan memegang peranan sangat penting, karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah yang besar. Masing-masing ternak ruminansia, setiap harinya membutuhan konsumsi pokok berupa hijauan pakan ternak ± 10% dari beratnya. Dalam ransum ternak ruminansia, rumput lebih banyak digunakan. Hal ini dikarenakan selain harganya lebih murah juga untuk memperolehnya relatif lebih mudah. Di samping itu, produktivitas rumput relatif lebih tinggi dan lebih tahan terhadap tekanan defoliasi (pemotongan dan renggutan).
Beberapa faktor yang menghambat penyediaan hijauan pakan, yakni terjadinya perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanaman pangan dan tanaman industry (DJAJANEGARA, 1999).  Dilain pihak, menurut KASRYNO dan SYAFA'AT (2000) bahwa sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia mengalami penurunan sekitar 30%. Disamping itu secara umum di Indonesia ketersediaan hijauan pakan juga dipengaruhi oleh iklim, sehingga pada musim kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak dan sebaliknya di musim hujan jumlahnya melimpah.
Untuk mengatasi kekurangan rumput ataupun hijauan pakan lainnya salah satunya adalah pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan. Dengan demikian untuk pengembangan ternak ruminansia di suatu daerah seharusnya dilakukan juga usaha untuk memanfaatkan limbah pertanian, mengingat sumber penyediaan rumput dan hijauan lainnya sebagai pakan sangat terbatas.  Sumber limbah pertanian diperoleh dari komoditi tanaman pangan, dan ketersediaanya dipengaruhi oleh pola tanam dan luas areal panen dari tanaman pangan di suatu wilayah. Jenis limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami kacang tanah, pucuk ubi kayu, serta jerami ubi jalar.
Berdasarkan sumbernya hijauan dapat digolongkan dalam 3 golongan yaitu :
1. Graminae (rumput).
2. Leguminosae (kacang-kacangan).
3. Sisa hasil pertanian.

A.    Jenis Bahan Pakan Asal Hijauan
Identifikasi genus atau species hijauan pakan menjadi semakin penting untuk dilakukan mengingat semakin pentingnya arti hijauan pakan bagi kebutuhan ternak khususnya ruminansia. Identifikasi hijauan pakan khususnya rumput dapat dilakukan berdasarkan tanda-tanda atau karakteristik vegetatif.
Hijauan pakan dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yakni jenis rumput-rumputan dan jenis daun-daunan. Hijauan pakan rumput-rumputan dapat berupa rumput lapangan atau rumput unggul. Hijauan pakan daun-daunan yang gizinya paling baik adalah daun leguminosa. Jenis leguminosa umumnya memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumput-rumputan.
1.     Rumput (Gramineae)

Rumput merupakan hijauan pakan yang memiliki ciri perakaran serabut, bentuk dan dasar sederhana, perakaraan silindris, menyatu dengan batang, lembar daun terbentuk pada pelepah yang muncul pada buku-buku (nodus) dan melingkari batang (Soedomo, 1985).  
Rumput tergolong dalam Famili Gramineae yaitu tanaman monokotiledon (bijinya terdiri atas satu kotiledon atau disebut juga berkeping satu). Struktur rumput relatif sederhana, terdiri dari akar yang bagian atasnya silindris dan langsung berhubungan dengan batang. Batangnya berbuku, helai daunnya keluar dari pelepah daun (sheath) pada buku batang. Malai rumput terdiri atas beberapa bunga yang nantinya menghasilkan biji. Hampir semua rumput adalah tanaman herba (tidak berkayu) sedangkan ukuran, bentuk dan pola tumbuhnya sangat beragam.
Asal usul rumput sebagai suatu jenis tanaman spesifik belum diketahui dengan pasti. Sejarah mencatat bahwa rumput sudah menjadi vegetasi di dunia sejak 20 juta tahun yang lampau. Penyebaran rumput pada seluruh benua mengalami akselerasi pada jaman es Pleistocene sekitar satu juta tahun yang lalu. Penyebarannya pada beragam lingkungan serta persilangan-persilangan yang terjadi secara alamiah menyebabkan rumput-rumputan semakin beragam. Melalui sistem klasifikasi tanaman yang dimiliki para ilmuwan bidang sistimatika tumbuhan dapat diidentifikasi bahwa pola distribusi rumput-rumputan mempunyai hubungan dengan distribusi iklim dunia. Pengelompokan genus dan species secara regional dapat dilakukan. Kehadiran suatu jenis rumput pada kawasan tertentu dianggap sebagai jenis asli kawasan itu.
Hingga saat ini dikenal tiga kawasan sebagai asal dari jenis-jenis rumput budidaya yaitu kawasan Ero-Asia, Afrika Timur dan Amerika Selatan. Kawasan Ero-Asia tengah dan Mediteran dikenal sebagai asal-usul berbagai species rumput temperate (empat musim). Sedangkan rumput-rumput tropika yang dikenal berasal dari Afrika meliputi species-species Adropogon, Brachiaria, Cenchrus, Chloris, Cynodon, Dichantium, Digitaria, Eragrostis, Hyparrhenia, Melinis, Panicum, Pennisetum, Setaria, Sorghum dan Urochloa. Sedangkan species-species yang dikenal berasal dari Amerika Selatan adalah Axonopus, Paspalum, Tripsacum dan Zea.
Terdapat lebih dari 600 genus dan lebih dari 10.000 species rumput didunia ini namun hanya sekitar puluhan sampai ratusan species yang dibudidayakan manusia. Diantara berbagai species itu, yang paling populer di Indonesia adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum). Rumput ini memang paling menonjol dipromosikan untuk dibudidayakan di kawasan pertanian campuran dimana lahan yang dapat dialokasikan untuk menanam rumput relatif sempit.   Pada satu unit lahan maka rumput gajah memberikan biomasa yang besar dibandingkan jenis rumput lain. Hal itu dikarenakan rumput itu tumbuh tegak dan tinggi, mencapai 1,5 meter, sehingga jumlah biomasa per unit tanamannya lebih tinggi daripada jenis-jenis rumput yang tumbuh pendek.  Akar utama rumput terbentuk sesudah perkecambahan dan selama pertumbuhan tanaman muda (seedling). Akar sekunder berbentuk padat di bawah permukaan tanah dekat dengan batang dasar (Reksohadiprodjo, 1985).
Rumput dibedakan menjadi dua golongan yaitu rumput potong dan rumput gembala (Soegiri et. al, 1982). Syarat rumput potong adalah produksi per satuan luas cukup tinggi, tumbuh tinggi secara vertikal, banyak anakan dan responsif terhadap pemupukan, contohnya adalah Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Euchlaena mexicana, Setaria sphacelata, Panicum coloratum, Sudan grass. Syarat rumput gembala adalah pendek atau menjalar (stolon), tahan renggut dan injak, perakarannya kuat dan dalam, serta tahan kekeringan. Contohnya adalah Brachiaria brizantha, Brachiaria ruziziensis, Brachiaria mutica, Paspalum dilatatum, Digitaria decumbens, Chloris gayana (Susetyo, 1985).



1.1  Sebagai Bahan Pangan
Kehadiran rumput didunia tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan ruminansia. Interaksi rumput dengan manusia secara langsung telah menjadikan rumput sebagai bagian dari budaya pangan manusia. Dahulu kala, diperkirakan sebelum 13.000 tahun yang silam, manusia masih hidup secara nomadik. Migrasi yang dilakukan manusia dari satu lokasi ke lokasi lain juga disertai dengan proses mengumpulkan biji dari beragam jenis tanaman untuk dibawa sebagai persediaan pangan. Sebagian besar biji tanaman yang dikumpulkan itu berasal dari rumput-rumputan (Crowder dan Chheda, 1992). Beberapa jenis tanaman itu mengalami perkawinan silang pada lingkungan barunya sehingga menambah keragaman jenis tanaman penghasil pangan. Dalam perkembangan budaya manusia, sekitar 11.000 tahun yang silam, seleksi mulai dilakukan terhadap jenis-jenis tanaman yang paling disukai manusia untuk dikembangkan demi mengamankan ketersediaan pangan mereka. Proses ini menghasilkan jenis-jenis tanaman pangan seperti sorgum (Sorghum), bulrush millet (Pennisetum americanum), finger millet (Eleusine coracana), teff (Eragrostis abyssinia) di Afrika; padi (Oryza sativa) di Asia; gandum (Triticum spp), rye (Secale cereale) dan barley (Hordeum spp) di Euro-Asia serta jagung (Zea mays) di Amerika. 
Budidaya jenis-jenis rumput sebagai tanaman pangan mulanya dilakukan dengan pola berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain sehingga budidaya dapat selalu dilakukan pada lahan yang subur (slash and burn agriculture). Hal ini, kecuali dapat menjamin produksi butiran untuk pangan juga memfasilitasi penyebaran dan kehadiran jenis-jenis rumput lain. Karena, setelah biji tanaman pangan dipanen untuk pangan kemudian lahan tempat tumbuhnya ditinggalkan untuk berpindah ke lahan lain maka lahan yang ditinggalkan secara alamiah akan ditumbuhi rumput-rumputan semusim, diikuti rumput-rumputan tahunan dan kemudian tanaman-tanaman berkayu. Rumput-rumputan ini menjadi sumber pakan alamiah untuk ruminansia.
Setelah melewati masa pola kehidupan mengumpulkan dan berburu (hunting and gathering) untuk menjamin keamanan pangan kemudian pada periode antara 11.000 sampai 10.000 tahun yang lalu, pola hidup manusia yang nomadik mulai berubah menjadi semi-menetap (Reed, 1969; Flannery, 1969).
Pola hidup semi-menetap atau menetap itu menuntut penangkaran dan budidaya tanaman pangan. Hewan herbivora yang mulanya merumput bebas pada padang rumput alam yang terbentuk akibat perladangan berpindah juga harus ditangkar agar dapat dipelihara ditempat tertentu sehingga tidak mengganggu/ memakan tanaman pangan yang sedang tumbuh pada lahan pertanian sampai bijinya dapat dipanen. Dengan demikian, proses penangkaran hewan diperkirakan juga berlangsung pada kurun waktu dimana orang mulai melakukan budidaya tanaman pangan secara semi-menetap atau menetap. Selama proses penangkaran, hewan herbivora dipelihara dengan diberi pakan rumput-rumputan, daun-daunan tanaman semak atau pohon-pohonan serta daun dan batang limbah tanaman pertanian. Bahan-bahan dengan ligno-selulosa tinggi ini tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia dan justru ternak herbivora dapat mengubahnya menjadi bahan-bahan yang dibutuhkan manusia seperti susu, daging, kulit dan wool.
1.2. Sebagai Bahan Pakan
Telah disingung pada berbagai sub-bab diatas tentang adanya interaksi antara rumput, padang rumput dan ruminansia sejak masa silam hingga saat ini. Padang rumput alam di Eropa, Asia, Amerika dan Australia secara tradisional telah menjadi sumber pakan ruminansia yang merumput di padang itu. Investor yang berupaya mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan padang rumput alam untuk memproduksi daging atau susu melakukan investasi memperbaiki produktivitas padang rumput alam. Hal ini difasilitasi pula oleh riset yang memungkinkan efisiensi tatalaksana pemanfaatan padang rumput serta seleksi jenis-jenis rumput yang sesuai untuk dibudidayakan dalam rangka peningkatan produktivitas. Sejalan dengan hal ini berbagai jenis rumput telah terseleksi dari kawasan Ero-Asia, Afrika dan Amerika Selatan  untuk dibudidayakan secara khusus dalam rangka menunjang peningkatan produksi ternak ruminansia.
Tidak banyak dari belasan atau puluhan ribu species rumput yang kemudian terpilih menjadi jenis-jenis rumput budidaya. Untuk tujuan memperbaiki padang rumput alam, membangun pastura ataupun untuk keperluan pemuliaan hijauan pakan ternak terdapat karakteristik yang diharapkan dari jenis-jenis rumput ataupun leguminosa yang akan diseleksi. Karakteristik harapan itu dapat bersifat umum atau spesifik. Adapun karakter harapan yang spesifik itu bergantung pada situasi kondisi tertentu dimana rumput atau leguminosa terseleksi akan dimanfaatkan. Sedangkan karakter yang secara umum diharapkan dari rumput atau leguminosa adalah mampu berproduksi tinggi dengan kualitas baik, persisten, mampu ber-asosiasi dengan jenis-jenis hijauan lain serta mudah untuk dikembangbiakkan. Karakteristik tersebut pada akhirnya harus dapat memberikan produksi ternak yang tinggi. Adapun diskripsi dari masing-masing karakter itu adalah:
©           Kemampuan Produksi dan Kualitas Tinggi. Artinya, bahwa hijauan mampu menghasilkan bahan kering yang tinggi, toleran terhadap cekaman air, temperatur tinggi ataupun rendah, mempunyai tingkat kecernakan dan palatabilitas tinggi sehingga dapat dikonsumsi ternak dalam jumlah tinggi pula.
©           Persisten. Berbeda dengan tanaman pangan maka hijauan pakan ternak, rumput atau leguminosa, diharapkan untuk lebih permanen pada pastura. Untuk itu maka mereka diharapkan untuk tahan terhadap pemotongan normal ataupun penggembalaan, mampu menghasilkan biji, tahan kekeringan, temperatur ekstrim dan api serta tahan terhadap penyakit dan serangan hama
©           Mampu berasosiasi dengan species lain. Berbagai pastura seringkali dibangun dengan mencampur rumput dan leguminosa dengan tujuan menyediakan hijauan berkualitas tinggi secara kontinyu, menyediakan ransum seimbang dalam hal protein, energi dan mineral serta menekan kebutuhan pupuk nitrogen dengan memanfaatkan transfer nitrogen dari leguminosa pada rerumputan. Terkait dengan hal ini, beberapa faktor yang relevan dengan kemampuan ber-asosiasi yang perlu diperhatikan adalah sifat tumbuh tanaman (membelit, merayap atau vertikal), kemampuan berkompetisi atas unsur hara ataupun sinar matahari, mempunyai palatabilitas baik dan mempunyai respon yang positip terhadap pemotongan
©           Mudah dikembangbiakkan. Meskipun diketahui berbagai jenis rerumputan ataupun leguminosa dapat dikembangbiakkan dengan stek ataupun sobekan rumpun (secara vegetatip) tetapi kemampuannya untuk menghasilkan biji perlu mendapatkan perhatian. Hal tersebut untuk memastikan adanya regenerasi tanaman seandainya terjadi keadaan alamiah yang tidak diharapkan seperti musim kering yang panjang dan memungkinkan pembuatan padang rumput baru melalui cara generatip. Apabila kemampuan hijauan pakan ternak menghasilkan biji adalah buruk maka kemungkinan akan menimbulkan beberapa masalah seperti mahalnya harga biji tanaman itu dan kegiatan seleksi serta pemuliaan dapat terhambat karena biji yang tersedia untuk evaluasi hanya sedikit.
Untuk setiap kawasan selalu dijumpai jenis-jenis rumput yang dapat beradaptasi dengan kondisi setempat. Beberapa jenis rumput budidaya yang sesuai untuk kawasan dengan iklim tropika basah adalah Brachiaria mutica, Cynodon dactylon, Digitaria decumbens, Melinis minutiflora, Pennistem clandestinum, Pennisetum purpureum, Paspalum dilatatum, Paspalum plicatulum dan Setaria anceps. Adapun untuk kawasan tropika kering maka terdapat jenis-jenis rumput budidaya seperti Cenchrus ciliaris, Chloris gayana, Panicum coloratum, Panicum maximum, Panicum antidotale.
1.3                                                           Jenis-jenis Rumput
a.     Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
                               

Rumput gajah berasal dari Afrika daerah tropik, perennial, dapat tumbuh setinggi 3 sampai 4,5 m, bila dibiarkan tumbuh bebas, dapat setinggi 7 m, akar dapat sedalam 4,5 m. Berkembang dengan rhizoma yang dapat sepanjang 1 m. Panjang daun 16 sampai 90 cm dan lebar 8 sampai 35 mm (Sutopo, 1988). Rumput gajah mempunyai perakaran dalam dan menyebar sehingga mampu menahan erosi serta dapat juga berfungsi untuk menutup permukaan tanah (Soegiri et. al, 1982).
Rumput gajah adalah tanaman tahunan, tumbuh tegak, mempunyai perakaran dalam dan berkembang dengan rhizoma untuk membentuk rumpun (Soedomo, 1985). Adaptasi rumput ini toleran terhadap berbagai jenis tanah, tidak tahan genangan, tetapi responsif terhadap irigasi, suka tanah lempung yang subur, tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan, tahan terhadap lindungan sedang dan berada pada curah hujan cukup, sekitar 1000 mm/tahun atau lebih. Kultur teknis rumput ini adalah bahan tanam berupa pols dan stek, interval pemotongan 40 – 60 hari, responsif terhadap pupuk nitrogen, campuran dengan legum seperti Centro dan Kudzu, produksinya 100 – 200 ton/ha/th (segar), 15 ton/ha/th (BK), renovasi 4 – 8 tahun (Reksohadiprodjo, 1985). Rumput Gajah toleran terhadap berbagai jenis tanah, tidak tahan genangan, tetapi respon terhadap irigasi, suka tanah lempung yang subur, tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan, tahan terhadap lingkungan sedang dengan curah hujan cukup, 1000 mm/th atau lebih (Susetyo, 1985).
b.    Rumput Raja (Pennisetum purpupoides)
Rumput raja pertama kali dihasilkan di Afrika Selatan, termasuk dalam famili Graminae, sub famili Poanicoidea dan tribus Paniceae. Rumput raja termasuk tanaman perennial, beradaptasi dengan baik di daerah tropis, tanah tidak terlalu lembab dengan drainase yang baik (Widjajanto, 1992). Rumput raja tumbuh tegak membentuk rumpun, tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai tinggi dengan curah hujan sekitar 1000 – 1500 mm/th, tidak tahan naungan dan genangan air, hidup pada tanah dengan pH sekitar 5. Tanaman ini tidak dapat diperbanyak dengan menggunakan stek dengan panjang sekitar 25 – 30 cm atau 2 ruas (Reksohadiprodjo, 1985).
Rumput Raja mempunyai ciri-ciri antara lain: tumbuh berumpun – rumpun, batang tebal, keras, helaian daun panjang dan ada bulu serta permukaan daunnya luas. Produksi rumput Raja segar dapat mencapai 40 ton /hektar sekali panen atau antara 200 – 250 ton/hektar/tahun (Rukmana, 2005). Tanaman rumput raja dapat dikombinasikan dengan tanaman legum agar karakternya lebih meningkat. Rumput raja berfungsi mencegah kerusakan tanah akibat erosi yang melanda permukaan tanah akibat sapuan air pada musim penghujan (Syarief, 1986). Bahan tanaman rumput raja ada dua macam yaitu dengan stek dan robekan rumpun yang dapat tumbuh pada tempat sampai ketinggian 1500 meter dari permukaan air laut (Sukamto, 2006).
c.      Rumput Setaria (Setaria sphacelata)
Rumput setaria dikenal dengan sebutan rumput Goden Timothy atau Setaria sphacelata, berasal dari Afrika tropik dan memilki siklus hidup parenial. Rumput setaria merupakan tanaman yang dapat membentuk rumpun yang lebat, kuat, dengan atau tanpa stolon dan rhizoma (Reksohadiprodjo, 1985). Rumput Setaria daunnya lebar dan agak berbulu pada permukaan atasnya. Pangkal batangnya berwarna cokelat keemasan. Setaria sphacelata biasanya dikembangbiakkan dengan pols (Soegiri et. al, 1982).
Rumput ini ketika dewasa dapat mencapai ketingian 180 cm, tahan kering dan genangan, hidup pada ketinggian 1000 kaki, dan pada curah hujan 25 inchi pertahunnya (Reksohadiprodjo, 1985). Rumput setaria yang dipotong pada umur 43 – 56 hari mempunyai kandungan bahan kering, lemak kasar, serat kasar, BETN, protein kasar, dan abu masing-masing sebesar 20,0%; 2,5%; 31,7%; 45,2%; 9,5%; dan 2,2 %. Pada kondisi optimum, Setaria memiliki kandungan protein kasar lebih dari 18 % dan serat kasar 25 % (Soedomo, 1985). Rumput setaria tumbuh baik pada curah hujan 750 mm/th atau lebih, toleran terhadap berbagai jenis tanah tetapi lebih suka pada tanah tekstur sedang, tahan genangan dan kering apabila lapisan olah dalam. Kultur teknisnya adalah bahan tanam berbentuk pols, biji (2 – 5 kg/ha), jarak tanam 70 x 90 cm, responsif terhadap pupuk nitrogen, pemotongan 35 – 40 hari (musim hujan) dan 60 hari (musim kemarau) (Reksohadiprodjo, 1985).
d.    Rumput Benggala (Panicum maximum)
Panicum maximum atau rumput Benggala atau disebut juga Guinea grass berasal dari Afrika tropik dan sub tropik. Rumput jenis ini dapat berfungsi sebagai penutup tanah, penggembalaan, ataupun diolah dalam bentuk hay dan silase (Reksohadiprodjo, 1985). Ciri tanaman ini adalah tumbuh tegak membentuk rumpun, tinggi dapat mencapai 1 – 1,8 m, daun lebih halus daripada rumput gajah, buku dan lidah daun berbuku, banyak membentuk anakan, bunga tersusun dalam malai dan berwarna hijau atau kekuningan, serta akar serabut dalam (Setyati,1980).
Sifat hidup dari Panicum maximum adalah perennial, tumbuh baik pada daerah dataran rendah sampai 1959 dari permukaan laut, curah hujan yang sesuai untuk rumput jenis ini adalah 1000 – 2000 mm/thn, rumput jenis ini tahan kering tetapi tumbuh baik jika cukup air walaupun tidak tahan genangan (Setyati, 1980).
 Panicum maximum juga tahan naungan, responsif terhadap pupuk nitrogen, dan juga tahan penggembalaan sehingga dapat dijadikan rumput potong ataupun pastura Pengelolaan tanaman ini dapat dilakukan dengan budidaya total, untuk perbanyakan tanaman ini dapat menggunakan biji 4 – 12 kg/ha atau dengan menggunakan sobekan rumput, jarak tanam yang sesuai adalah 60 x 60 cm (Soegiri et. al, 1982). Panicum maximum dapat ditanam bersama leguminosa Centrosema dengan perbandingan 4 – 6 kg Panicum per ha dan 2 – 3 kg Centro per ha atau dalam baris-baris berseling Pemotongan dapat dilakukan 40 – 60 hari sekali atau dengan kata lain pemotongan pertama dapat dilakukan 2 – 3 bulan. Pembongkaran kembali dapat dilakukan setelah 5 – 7 tahun (Widjajanto,1992). Panicum maximum mampu menghasilkan produksi biji 75 – 300 kg/ha dan menghasilkan produksi hijauan sebanyak 100 – 150 ton bahan kering per ha per tahun.
2.     Legum (Leguminoceae)
Leguminosa adalah tanaman dikotilledon (bijinya terdiri dari dua kotiledon atau disebut juga berkeping dua). Famili tanaman leguminosa terbagi atas tiga sub-famili yaitu Mimosaceae, Caesalpinaceae dan Papilionaceae. Mimosaceae adalah tanaman perdu berkayu dengan bunga biasa sedangkan Caesalpinaceae mempunyai bunga irregular. Adapun Papilionaceae adalah tanaman semak berkayu dengan bunga papilionate atau berbentuk seperti kupu. Antar jenis leguminosa terdapat perbedaan morfologi. Umumnya, sistem perakaran leguminosa terdiri atas akar primer yang aktif dan mempunyai cabang-cabang sebagai akar sekunder. Akar primer (tap root) tumbuh jauh kedalam tanah. Sistem perakaran itu umumnya terinfeksi oleh bakteri dari species Rhizobium sehingga terbentuk bintil-bintil atu nodul-nodul akar. Antara bakteri dan tanaman leguminosa terjadi simbiose mutualistik. Untuk pertumbuhannya, bakteri menggunakan Nitrogen yang diserap dari udara dan kemudian populasi bakteri yang mati menjadi sumber Nitrogen untuk pertumbuhan tanaman leguminosa.
Famili legume dibagi menjadi 3 group sub famili, yaitu: mimisaceae, tanaman kayu dan herba dengan bunga “regular”, caesalpinaceae, tanaman dengan bunga “irregular” dan papilonaceae, tanaman kayu dan herba ciri khas berbentuk bunga kupu-kupu (Susetyo, 1980). Hijauan pakan jenis leguminose (polong-polongan) memiliki sifat yang berbeda dengan rumput-rumputan, jenis legume umumnya kaya akan protein, Ca dan P. Leguminose memiliki bintil-bintil akar yang berfungsi dalam pensuplai nitrogen, dimana di dalam bintil-bintil akar inilah bakteri bertempat tinggal dan berkembang biak serta melakukan kegiatan fiksasi nitrogen bebas dari udara. Itulah sebabnya penanaman campuran merupakan sumber protein dan mineral yang berkadar tinggi bagi ternak, disamping memeperbaiki kesuburan tanah (AAK, 1983).
Kebanyakan tanaman pakan dan tanaman ekonomi penting termasuk dalam papiloneceae group. Legume ada yang mempunyai siklus hidup secara annual, biennial atau perennial (Soegiri et al., 1982). Leguminosa memegang peranan penting sebagai hijauan pakan ternak dan rumput-rumputan untuk ternak herbivora (Lubis, 1992). Dijelaskan lebih lanjut bahwa leguminosa mempunyai sifat-sifat yang baik sebagai bahan pakan dan mempunyai kandungan protein dan mineral yang tinggi. Tanaman leguminosa meskipun mempunyai kandungan nutrisi cukup tinggi tetapi hanya dapat digunakan sebagai campuran pakan hijauan paling banyak 50% dari total hijauan yang diberikan (Susetyo, 1980). Hal ini disebabkan karena dalam leguminosa terdapat zat anti nutrisi seperti mimosin, anti tripsin, dan juga mempunyai banyak bulu sehingga palatabilitasnya rendah.
 Lebih jelasnya berikut sistematika Taxonomi dari legum :
Sistematika Taxonomi
Golongan
Phylum
Spermatophyta

Sub phylum

Angiospermae

Class

Dicotyl

Ordo

Rosales

Family
Leguminoceae

Sub Family

Papillionaceae

Genus

Centrosema, Peuroria,Calopogonium

Spesies

Pubescens, Phaseloides, Mucunoides


Sama seperti rumput, asal-usul leguminisa tidak diketahui dengan pasti. Fosil tertua menunjukkan bahwa leguminosa, bersama rumput, hadir didunia sejak lebih dari seratus tiga puluh juta tahun yang lalu, pada era mesozoic periode cretaceous pada jaman neocomian. Bentuk dasar leguminosa yang ada saat itu seperti pohon-pohon tropika. Kemudian, interaksinya dengan dengan mamalia primitif pada era itu (seperti Dinosaurus) yang bersifat browser (meramban daun pepohonan) serta injakan mamalia besar itu membuat pohon leguminosa mengalami penurunan populasi dan evolusi. Struktur tanaman ini mengalami modifikasi menjadi tanaman semak, tanaman pemanjat berkayu, tanaman musiman dan akhirnya menjadi tanaman tahunan (Semple, 1970). Tanaman leguminosa ini tersebar diseluruh benua namun tidak pernah menjadi tanaman yang dominan pada suatu kawasan seperti layaknya rumput. Apabila rumput secara alamiah dapat menjadi tanaman dominan pada suatu kawasan sehingga membentuk padang rumput (grassland) tetapi, tidak ada suatu kawasan didunia yang dapat disebut sebagai padang leguminosa (legumelands). Mungkin karena ada tenggang waktu yang lama (sekitar 110 juta tahun) sejak hadirnya rumput di dunia (yaitu sekitar 130 juta yang silam) dan baru digunakan oleh ruminansia pada jaman Miocene, sekitar 20 juta tahun yang lalu (Stewart, 1956). Tenggang waktu itu memungkinkan rumput tumbuh baik dan menyebar disemua bagian dunia. Sabana di Afrika saat ini, misalnya, ditumbuhi rumput secara lebih merata walaupun pada sabana itu terdapat juga pohon dan semak leguminosa. Umumnya jumlah leguminosa di padang rumput tidak lebih dari 10 persen dari jenis-jenis tanaman di padang itu.
Seperti halnya rumput, melalui proses seleksi yang dilakukan manusia terhadap biji-bijian sejak budaya hidup masih secara nomadik hingga menetap maka sebagian jenis-jenis leguminosa berkembang menjadi bahan pangan. Jenis-jenis leguminosa pangan yang kita kenal saat ini adalah seperti Glycine max, Arachis hypogea, Vigna sinensis.
Peran penting dari leguminosa tropika sebagai hijauan pakan untuk pastura maupun pakan ternak ruminansia baru mendapatkan perhatian sejak tiga dekade yang lalu. Sebelum kurun waktu itu, ilmuwan lebih memperhatikan jenis-jenis leguminosa temperate seperti species-species dari genus Medicago, Trifolium, Vicia dan Melilotus. Melalui riset maka dari benua Afrika mulai dikenal manfaat jenis-jenis leguminosa tropika seperti dari genus Glycine, Vigna, Indigofera, Dolichos dan Alysicarpus. Sedangkan dari kawasan Amerika tropis dikenal jenis-jenis leguminosa pakan ternak seperti dari genus Calopogonium, Centrosema, Desmodium, Leucaena, Phaseolus, Stylosanthes dan Teramnus.
Pada masa silam, sejak jaman kekaisaran romawi, tanaman pohon atau perdu telah dimanfaatkan manusia sebagai pakan ternak dengan cara dipotong dan daunnya diberikan kepada ternak atau ternak dibiarkan meramban. Namun, manfaat penting tanaman berkayu itu sebagai pakan ternak hanya diketahui kemudian (Baumer, 1992). Sebagai misal, perdu leguminosa Gliricidia maculata dan Gliricidia sepium telah di-introduksi ke Afrika pada akhir abad kedelapan belas sebagai tanaman naungan untuk perkebunan tanaman teh, kopi dan cokelat. Namun manfaat penting kedua jenis leguminosa itu sebagai pakan hanya dikenal sejak beberapa dekade yang lalu setelah diketahui bahwa daunnya mengandung 20-30% protein kasar, 14% serat kasar dengan kecernaan antara 50 sampai 70%.

2.1  Jenis – jenis Leguminosa

2.1.1. Sentro (Centrosema pubescens)
Centrosema pubescens berasal dari Amerika selatan tropis dan memiliki fungsi sebagai tanaman penutup tanah, tanaman sela, dan pencegah erosi. Legum Centrosema pubescens termasuk sub familia Papiloniceae dari famili Leguminoceae (Soedomo, 1985). Batang Centro panjang dan sering berakar pada bukunya, tiap tangkai berdaun tiga lembar, berbentuk elips dengan ujung tajam dan bulu halus pada kedua permukaannya. Bunga berbentuk tandan berwarna ungu muda bertipe kacang ercis dan kapri. Polong berwarna coklat gelap, panjang 12 cm, sempit dengan ujung tajam terdiri dari 20 biji (Widjajanto, 1992). Centrosema pubescens tumbuh dengan membelit pada tanaman lain atau menjalar di pagar dan juga menjalar bersama–sama dengan rumput menutupi permukaan tanah. Batang panjang, sering berakar pada bukunya, daun dengan tiga anak daun yang berbentuk telur dengan ujung tajam, berambut, panjangnya 5 – 12 cm dan lebar 3 – 10 cm (Susetyo, 1985).
2.1.2. Kalopo (Calopogonium mucunoides)
Calopogonium muconoides berasal dari Amerika Selatan Tropik bersifat perennial, merambat membelit dan hidup di daerah – daerah yang tinggi kelembabannya (Reksohadiprodjo, 1985). Pertumbuhan kalopo menjalar, merambat, tidak tahan terhadap penggembalaan, tidak tahan naungan yang lebat akan tetapi dapat tumbuh dengan baik didaerah yang lembab (Sukamto, 2006).
Kalopo memiliki batang lunak ditumbuhi bulu-bulu panjang berwarna cokelat dan daunnya ditutupi oleh bulu halus berwarna cokelat keemasan, sehingga kurang disukai oleh ternak (Soegiri et. al ,1982). Kalopo biasa dikembangbiakkan dengan dengan biji dan mampu tumbuh baik pada tanah sedang sampai berat pada ketinggian 200 – 1000 m diatas permukan laut dan membutuhkan curah hujan tahunan sebesar 1270 mm (Reksohadiprodjo, 1985).
2.1.3. Gamal (Gliricidia sepium)

Gamal adalah sejenis legum yang mempunyai ciri-ciri tanaman berbentuk pohon, warna batang putih kecoklatan, perakaran kuat dan dalam (Syarief, 1986). Gamal merupakan leguminosa berumur panjang, tanaman ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan dengan temperatur suhu antara 20 – 30 oC dengan ketinggian tempat antara 750 – 1200 m. Tanaman ini mampu hidup di daerah kering dengan curah hujan 750 mm/thn dan tahan terhadap genangan. Perkembangan tanaman ini dengan stek, dengan banyak cabang dan responsif terhadap pupuk N (Soedomo, 1985).
Penanaman gamal yang harus diperhatikan yaitu jarak tanaman dibuat 2 – 2,5 m antar baris. Tanaman gamal tinggi menjulang dengan batang lurus panjang. Kulit batangnya mudah sekali lecet atau terkelupas. Bunga gamal tersusun dalam rangkaian dengan warna merah muda keputihan. (Reksohadiprodjo, 1985). Komposisi nutrisi daun gamal terdiri atas bahan kering 23%; protein kasar 25,2%; lemak 4,9%; BETN 55,5% (Rukmana, 2005).
Fungsi tanaman: tanaman pelindung,pagar,makanan ternak,dan penahan erosi.Dapat diperbayak dengan menggunakan stek ataupun biji. Gamal ditanam sebagai penahan angin, bank protein, pakan ternak dan pagar hidup. Tanaman yang diperbanyak dengan setek sudah dapat dipanen perdana pada usia di bawah 1 tahun. Biasanya 8-10 bulan. Sedangkan pada tanaman biji, hasil biomasa baru dapat diperoleh pada usia sekira 2 tahun.Penanaman setek lebih baik berasal dari batang bawah tanaman yang cukup usia (diatas 2 tahun), diameter batang cukup besar (diatas 4cm) dengan panjang setek bervariasi mulai dari 40cm sampai 1.5m. Jarak tanam juga bervariasi, antara 40 -50cm sampai dengan 1.5 – 5m tergantung kebutuhan.  Gamal mengandung nilai gizi yang tinggi. Protein kasar berada diantara 18-30% dan nilai ketercernaan 50-65% (lihat tabel 1).
Tabel 1. Persentasi dari Bahan Kering Gamal (Animal Feed Resources Information system,FAO.)
Hijauan


BK(%)
CP(%
PK(%)
CP(%
SK(%)
CP(%
Abu
CP(%
Ca
CP(%
P
CP(%
Gamal

29,1

23

20,7

20,7

76,000

76,000

Keterangan
BK= Berat Kering

PK= Protein Kasar
SK=Serat Kasar
CP=Ketercenaan
Walaupun sangat bermanfaat bagi ternak, tingkat racun dalam Gamal juga sudah dikenal sejak lama. Sekurang-kurangnya ada beberapa jenis komponen racun dalam Gamal,diantaranya dicoumerol, suatu senyawa yang mengikat vitamin K dan dapat mengganggu serta menggumpalkan darah. Dicoumerol diperkirakan merupakan hasil konversi dari coumarin yang disebabkan oleh bakteri ketika terjadi fermentasi.Zat lain yang perlu diperhatikan adalah Nitrat (NO3). Sebetulnya nitrat itu sendiri tidak beracun terhadap ternak, tapi pada jumlah yang banyak dapat menyebabkan penyakit yang disebut keracunan nitrat (nitrate poisoning). Nitrate yang secara alamiah terdapat pada tanaman di rubah menjadi nitrit oleh proses pencernaan, pada gilirannya nitrit dikonversi menjadi amonia. Amonia kemudian di konversi lagi menjadi protein oleh bakteri dalam rumen. Apabila ternak sapi mengkonsumsi banyak hijauan yang mengandung nitrat dalam jumlah besar, nitrit akan terakumulasi di dalam rumen. Nitrit sekurangnya 10 kali lebih beracun terhadap ternak sapi dibandingkan nitrat. Nitrit diserap kedalam sel darah merah dan bersaru dengan molekul pengangkut oksigen, hemoglobin sehingga membentuk methemoglobin.
Sayangnya, methemoglobin tidak dapat membawa oksigen dengan efisien seperti hemoglobin, akibatnya detak jantung dan pernafasan ternak meningkat, darah dan lapisan kulit berubah warna menjadi biru kecoklat coklatan, otot gemetar, sempoyongan dan bila tidak segera ditangani dapat mati lemas.Selain itu, dalam Gamal juga terdapat molekul alkaloid yang belum dapat diidentifikasi dan senyawa pengikat protein yang juga tergolong zat anti nutrisi, tannin walaupun dalam konsentrasi yang cukup rendah dibandingkan Kaliandra (Calliandra calothrysus).
2.1.4 .Kaliandra (Calliandra calothrysus)
                         
Tinggi tanaman (pohon) kaliandra dapat mencapai 8 m. tanaman kaliandra dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1500 m dpl, toleran terhadap tanah yang kurang subur, dapat tumbuh cepat dan berbintil akar sehingga mampu menahan erosi tanah dan air.
Manfaat kaliandra pada makanan ternak adalah sebagai bank protein. Penanaman kaliandra pada tanah-tanah yang kurang produktif dapat menekan pertumbuhan gulma. Selain itu tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman penahan erosi dan penyubur tanah.
Daun kaliandra mudah dikeringkan dan dapat dibuat sebagai tepung makanan ternak kambing
.
Tabel 2. Komposisi Kandungan Kaliandra
Hijauan

PK (%)

EK(kkal/
SDN (%)

Lignin (%)

Abu (%)

Ca (%)

Protein (%)

Kaliandra


22,4

46,30

24,0


19,95

7,5

1,6

    0,2






2.1.5.   Turi ( Sesbania grandiflor)

                          

Berasal dari daerah srilangka.Tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi (1.200m), dengan curah hujan 2.000 mm/tahun.Termasuk sejenis tanaman semak.Di Indonesia banyak ditanam di pematang sawah.
Sifat khusus dari tanaman turi adalah pertumbuhannya yang begitu cepat, tinggi tanaman bisa mencapai 10 meter, dan bunga besar berbentuk seperti kupu-kupu berwarna merah muda,putih atau ungu. Berdaun keci-kecil dan bulat,buahnya berbentuk polong yng panjang.Turi dapat beradaptasi pada tanah asam yang tidak subur,tanah kapur, kadang-kadang juga tumbuh subur pada tanah yang tergenang air.
Digunakan sebagai makanan ternak karena :
·        Merupakan sumber vitamin,terutama pro vitamin A,Vitamin B,C,E.
·        sumber mineral,terutama Ca,dan P.
Daun turi merupakan hijauan makanan ternak yang potensial. Komposisi zat gizi daun turi terdiri atas:




Tabel 3.  Kompossi Zat Gizi Daun Turi
Hijauan

PK (%)

EK(kkal/g)

SDN (%)

Lignin (%)


Abu (%)

Ca (%)

Protein (%)

Turi

27,3

4.825

  24,4

2,7

   7,5

1,5

0,4

Seluruh masyarakat Timor pasti mengenal Turi/kane/gala-gala. Turi merupakan pohon serbaguna sebagai makanan hewan, sayuran konsumsi manusia, untuk kayu bakar dan batangnya sebagai material konstruksi ringan serta sangat baik untuk meningkat kesuburan lahan. Turi bisa diandalkan sebagai makanan pokok Sapi. Sayangnya tumbuhan ini walau tahan terhadap kekeringan, tapi tidak tahan terhadap api dan gulma/tanaman penganggu.
2.1.5   Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala)
                                 
Leucaena leucocephala atau lamtoro merupakan leguminosa yang berasal dari Amerika tengah, Amerika selatan dan Kepulauan Pasifik. Tanaman ini tumbuh tegak, berupa pohon dan tidak berduri (Sutopo, 1988). Lamtoro dapat tumbuh pada daerah dataran rendah sampai dengan 500 m di atas permukaan air laut dengan curah hujan lebih dari 760 mm/th (Soedomo, 1985). Lamtoro dapat tumbuh baik pada tanah dengan tekstur berat dengan drainase yang baik dan sangat responsif terhadap Ca dan P pada tanah masam (Susetyo, 1985)
 Berasal dari amerika tengah dan selatan.Tumbuh pada ketinggian 0-1200 m dpl,dengan struktur tanah sedang sampai berat,dan dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur.Curah hujan 700-1.650 mm/tahun,temperature 20-30oc.  Tanaman ini berbentuk pohon yang bisa mencapai ketinggian 10 m dan memiliki akar yang cukup dalam.Daunnya kecil-kecil,bentuknya lonjong,bunganya bertangkai.
Tanaman ini toleran terhadap hujan,angin,kekeringan,serta tanah-tanah yang kurang subur.  Lamtoro lebih sesuai pada tanah yang tidak masam (pH 5,5-7,5) dan kurang baik tumbuhnya apabila tanah masam (pH 4-5,5). Gliricidia mempunyai daya toleransi yang lebih tinggi terhadap kemasaman tanah, tahan pangkasan dan cepat kembali bertunas sesudah pemangkasan. Kaliandra mempunyai daya adaptasi yang cukup luas tetapi kalah populer dibandingkan dengan gliricidia.  Lamtoro dapat digunakan sebagai tanaman makanan ternak, tanaman pelindung, mempertahankan kesuburan tanah dan mencegah erosi.Jarak tanam:180-240 cm.pemotongan pertama dapat dilakukan pada waktu tanam berumur 6 – 9 bulan kemudian pemotongan dapat diulangi 4 bulan sekali.
Original text
Contribute a better translation

Bahan tanam dari lamtoro adalah berupa biji dan stek. Lamtoro dapat dipotong pertama kali setelah mencapai tinggi 0,6 – 0,9 m yaitu sekitar umur 4 – 6 bulan, dengan interval pemotongan 2 – 3 bulan (Soegiri et. al, 1982). Tanaman lamtoro dapat di tanam bersama dengan rumput Guinea. Daun muda lamtoro terdapat racun mimosin (Sutopo, 1988). Lamtoro berakar dalam, mempunyai ketinggian antara 6,5 sampai 33 ft. Daun – daunnya berkurang, berbunga dengan bentuk bola berwarna putih kekuning-kuningan atau merah muda. Lamtoro dapat ditanam untuk makanan ternak, pemotongan pertama dapat dilakukan 6 – 9 bulan sesudah penyebaran bijinya, pemotongan dilakukan sampai sisa tanaman adalah 2 sampai 4 inchi dari atas tanah dan kemudian pemotongan berikutnya dapat dilakukan tiap 45 bulan sekali. Petai cina atau lamtoro ini dapat ditanam sebagai tanaman annual dan perennial (Reksohadiprodjo, 1985).
2.1.5. Puero (Pueraria phaseoloides)
Puero (Pueraria phaseoloides) memiliki kultur teknis dikembangbiakkan dengan biji (Susilo, 1991). Puero termasuk tanaman jenis legum berumur panjang, yang berasal dari daerah subtropis, tetapi bisa hidup di daerah tropik dengan kelembaban yang tinggi. Tanaman ini tumbuh menjalar dan memanjat (membelit), bisa membentuk hamparan setinggi 60–75 cm (Sutopo, 1985). Puero berasal dari India Timur, siklus hidupnya perenial. Ciri-cirinya tumbuh merambat, membelit dan memanjat. Sifat perakarannya dalam, daun muda tertutup bulu berwarna coklat, daunnya berwarna hijau tua dan bunganya berwarna ungu kebiruan (Soegiri et al., 1982).
2.1.6. Orok-orok (Crotalaria juncea)
Crotalaria juncea L, meruapakan species yang tinggi nilainya, karena bermanfaat sebagai pupuk hijau, pakan ternak, dan produksi serat yang mempunyai peranan penting untuk dipakai sebagai bahan untuk industri kertas (Bang, 1990). Ciri-ciri tanaman ini adalah batangnya tumbuh tegak lurus, berbentuk bulat dan sedikit di atas permukaan tanah melebar. Warna kulit batang hijau muda atau hijau kekuning-kuningan. Cabangnya tumbuh memancar dan terdapat sepanjang batang dari pangkal sampai ujung. Tinggi batang, dari tanah sampai ujung, berdaun tunggal dan letaknya tersebar. Tangkai daun pendek, sedangkan daunnya berbentuk taji dengan tepi yang rata dengan ukuran panjang 3,5 sampai 5 cm dan lebar 0,75 sampai 1,95cm. Daun berwarna hijau muda berbulu halus seperti beludru, baik pada helaian atas maupun bawah dan berakhir pada ujung helaian daun (Joenoes, 1978).
3.     Limbah hasil Pertanian
Limbah tanaman pertanian yang dimaksud dalam sub-bab ini adalah bagian-bagian dari tanaman yang dibudidayakan setelah produk utamanya dipanen untuk kepentingan manusia. Khususnya pada kawasan tropis dimana pemeliharaan ruminansia dilakukan oleh mereka yang mengoperasikan sistem pertanian campuran maka petani-ternak pada kawasan itu juga memanfaatkan limbah tanaman pertanian yang dibudidayakannya sebagai pakan untuk ternak ruminansia mereka. Adapun jenis-jenis limbah tersebut beragam antar lokasi, tergantung pada jenis tanaman pertanian yang dibudidayakan setempat. Pada kawasan Asia-Pasifik, jenis-jenis limbah pertanian itu meliputi jerami padi, jerami kacang tanah, jerami kacang kedelai, tebon jagung, jerami sorghum, daun ketela pohon, daun ketela rambat, daun talas dan pucuk tebu. Jenis-jenis limbah dimaksud selaras dengan jenis-jenis tanaman pertanian yang umum dibudidayakan.
Sejalan dengan penggunaan limbah pertanian seperti dimaksud diatas, petani ternak juga mengembalikan kotoran ternak yang dihasilkannya ke lahan pertanian sebagai pupuk. Kondisi itu menjadikan pola pertanian campuran pada sebagian besar kawasan tropis bersifat terintegrasi antara tanaman dan ternak dengan tujuan memaksimumkan sumberdaya pada tingkat rumahtanggatani (Schiere dan Kater, 2001). Integrasi semacam itu akhir-akhir ini menjadi semakin populer dikawasan empat musim sebagai bagian sistem pertanian yang disebut New Conservation Agriculture.
Khususnya untuk jenis tanaman jagung, pada kawasan tropika, menghasilkan tebon jagung setelah buah jagungnya dipanen untuk konsumsi manusia. Oleh petani-ternak, tebon jagung dapat langsung diberikan kepada ternak dalam keadaan segar atau terlebih dahulu dikeringkan matahari menjadi hoi (hay) kemudian disimpan dan diberikan kepada ternak pada saat musim paceklik pakan (umumnya terjadi pada musim kemarau). Pada berbagai negara dikawasan empat musim, tanaman ini justru dibudidayakan sebagai hijauan pakan ternak. Tanaman jagung dipanen sekaligus bersama buahnya untuk diberikan kepada ternak ruminansia sebagai sumber zat makanan dan energi. Jenis tanaman ini juga dibudidayakan untuk diawetkan dalam bentuk segar yang disebut silase untuk digunakan sebagai pakan pada musim dingin (winter). Saat itu ternak tidak dapat merumput di padang rumput yang bersalju dan harus dikandangkan dan diberi pakan silase jagung.

1.     Jenis Bahan Pakan Asal Biji-bijian dan  Umbi-umbian
a.     Asal Biji-bijian

                                               
Nama latin : Sorghum almum
Nama umum : Parodi
Asal : Afrika, Amerika Selatan
Deskripsi : - Tegak, rumpun dgn banyak anakan, dari rhizom yg pendek tumbuh anakan,
tinggi 3.4 m
- Satu kg berisi 121.000 biji
Agronomi : - Diturunkan dari hybrid Johnson grass(Sorghum halepense), Sorgum biji
dan Sorghum bicolor
- Hidup hujan > 460 mm/th, tahan kering dan tahan kadar garam tinggi
- P-
Pada tanah subur bisa hidup 10 th dan Berbunga setelah 49-56 hari
- Kegunaan : hay, silase, grazing

Berbunga setelah 49-56 hari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar