Senin, 17 Desember 2012

PENGARUH SUHU LINGKUNGAN TERRHADAP KAMBING PERANAKAN ETTAWA



TUGAS MAKALAH
ILMU LINGKUNGAN TERNAK

PENGARUH SUHU LINGKUNGAN TERRHADAP   KAMBING  PERANAKAN ETTAWA

NAMA KELOMPOK 25
YUSMAR                              I 111 11 331
JIHADUL FAJRI                 I 111 11 333
EMANUEL ISAR                I 111 11 335
NURHIDAYAT                    I 111 11 337







FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012





BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Peternakan merupakan suatu kegiatan mengembangbiakan dan membudidayakan hewan ternak untuk diambil manfaat dari hasil kegitan. Dalam kegiatan tersebut perternak berupaya mendatang ternak unggul dari negara-negara yang mempunyai ternak domestik unggul yang pertumbuhan dan produksinya bagus, seperti Kambing Etawa dari India. Namun peternak di Indonesia terkendala karena bibit tersebut perlu penyesuaian terhadap iklim dan suhu lingkungan Indonesia. Maka dalam hal ini perlu manipulasi agar ternak dapat beradaptasi dengan lingkungan
Sistem pemeliharaan kambing di Indonesia sebagian besar masih dilakukan secara tradisional oleh petani ternak. Ternak dilepas atau digembalakan di lapangan atau padang rumput lain pada siang hari. Konsekuensi sistem pemeliharaan demikian adalah terjadinya beban panas yang berlebih atau cekaman panas pada ternak, karena pengaruh langsung dari radiasi matahari dan suhu lingkungan yang tinggi. Kondisi ini memaksa ternak untuk mengaktifkan mekanisme termoregulasi, yaitu peningkatan suhu rektal, suhu kulit, frekuensi pernafasan dan denyut jantung, serta menurunkan konsumsi pakan (Purwanto et al., 1996). 
Rendahnya persentase bobot karkas pada suhu lingkungan rendah disebabkan oleh tingginya bobot alat pencernaan (jeroan), berhubung tingginya konsumsi pakan di daerah suhu lingkungan rendah. Terjadinya peningkatan konsumsi pakan, diikuti peningkatan bobot jeroan dan isi. Kaitan antara suhu lingkungan dengan konsumsi pakan, dijelaskan melalui pengaruhnya pada aktivitas metabolisme.

Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengaruh suhu lingkungan terhadap fisiologi kambing PE
2.      Mengetahui respon termoregulasi terhadap kambing PE
3.      Mengatahui pengaruh konsumsi ransum dan pertambahan bobot tubuh kambing PE terhadap suhu pada kandang


BAB II
PEMBAHASAN
Pengaruh Suhu Lingkungan Terhadap Fisiologis Kambing PE
Masalah utama dari ternak yang dipelihara di daerah tropis basah, seperti di Indonesia, adalah tingginya radiasi matahari secara langsung sepanjang tahun, khususnya bagi ternak berproduksi tinggi, sehingga ternak dalam kondisi uncomfort karena beban panas yang berlebih. Respons dari masalah ini adalah ternak terpaksa meningkatkan aktivitas termoregulasi guna mengatasi beban panas yang dideritanya. Suhu dan radiasi matahari pada kandang tanpa atap atau tanpa naungan atap lebih tinggi daripada kandang dengan naungan atap. Sebaliknya kelembaban dalam kandang tanpa naungan atap lebih rendah daripada di dalam kandang dengan naungan atap. 
Menurut Smith dan Mangkuwidjojo (1988) bahwa daerah nyaman bagi kambing berkisar antara 18 dan 300C. Peningkatan suhu terjadi sejalan dengan peningkatan besarnya radiasi matahari yang diterima. Namun demikian, diduga bahwa beban panas yang lebih kecil dialami oleh kambing yang dipelihara di bawah naungan atap. Kondisi ini terlihat dari kemampuan naungan atap untuk memperbaiki lingkungan mikro dalam kandang naungan atap, yaitu menurunkan suhu dan radiasi matahari.
Mekanisme fisiologis mengharuskan alokasi energi untuk kinerja produksi maupun reproduksi dipakai untuk mempertahankan keseimbangan panas tubuh. Dengan demikian, akan berdampak buruk yaitu penurunan produktivitas ternak. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengendalikan panas yang diterima dan peningkatan panas yang terbuang oleh ternak, yaitu pemberian naungan atau atap dan pemilihan bahan atap yang lebih efektif dalam menciptakan kondisi iklim mikro kandang yang kondusif bagi ternak untuk berproduksi. Jenis atap kandang yang biasa digunakan oleh para peternak, yaitu atap dari rumbia, seng, dan genteng. Dari bahan tersebut kita dapat membandingkan bahan atap mana yang lebih efektif dalam menciptakan kondisi iklim mikro kandang yang kondusif bagi ternak untuk berproduksi.


Hasil penilitian Qiston (2007) menunjukkan:
  1. Jenis atap tidak mempengaruhi suhu udara, kelembaban udara, dan radiasi matahari dalam kandang
  2. Kandang beratap rumbia menyebabkan respons suhu rektal lebih rendah dibandingkan dengan kambing yang ada di dalam kandang beratap genteng dan seng pada pengamatan siang, malam, dan rataan harian. Kandang beratap genteng menyebabkan suhu rektal ternak kambing lebih rendah dibandingkan ternak beratap seng pada pengamatan siang dan rataan harian, namun pada pengamatan malam hari tidak berbeda
  3. Kandang beratap rumbia menyebabkan respons frekuensi pernafasan lebih rendah dibandingkan dengan ternak beratap seng baik pada pengamatan siang maupun rataan harian, sedangkan dibandingkan dengan ternak beratap genteng tidak berbeda. Pengamatan malam hari ketiga jenis atap menghasilkan frekuensi pernafasan yang tidak berbeda;
  4. Ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons frekuensi denyut jantung baik pada pengamatan siang hari, malam hari, maupun rataan harian;
  5. Ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons pertambahan bobot badan harian pada ternak kambing percobaan.
 Respons Termoregulasi Terhadap Kambing PE
Suhu rektal kambing PE pada kandang tanpa naungan atap memberikan hasil yang lebih besar daripada kambing yang dinaungi. Hasil ini mengindikasikan bahwa tingkat cekaman atau beban panas yang dialami oleh kambing pada kandang tanpa naungan atap lebih besar jika dibandingkan dengan kambing yang dinaungi. Hal ini disebabkan lebih tingginya suhu dan radiasi matahari dalam kandang tanpa naungan atap. Menurut Mc Dowell (1972), suhu lingkungan yang tinggi mengakibatkan peningkatan suhu tubuh ternak.
Meskipun nilai rataan suhu rektal kambing PE pada kedua kondisi pemeliharaan di kandang dengan naungan atap dan di kandang tanpa naungan atap, suhu rektal keduanya masih berada dalam kisaran normal suhu rectal kambing. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Smith dan Mangkuwidjojo (1988), suhu rektal kambing pada kondisi normal adalah 38,5 -400C dengan rataan 39,40C atau antara 38,5 dan 39,70C dengan rataan 39,10C (Anderson, 1970). Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme termoregulasi dapat berjalan dengan baik.
Kambing yang dipelihara pada kandang tanpa naungan atap memiliki frekuensi pernapasan dan denyut jantung yang lebih tinggi daripada kambing di bawah naungan atap. Kondisi ini dikarenakan ternak pada kandang tanpa naungan atap mengalami cekaman atau beban panas yang lebih besar, sehingga akan melakukan aktivitas mekanisme termoregulasi melalui jalur evaporasi, baik melalui kulit maupun pernafasan, yang lebih besar jika dibandingkan dengan ternak yang berada di bawah naungan atap. Frandson (1993) menyatakan bahwa ternak yang tidak dinaungi akan mengalami peningkatan pada suhu rektal, suhu kulit, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung, sebagai akibat adanya tambahan panas dari luar tubuh terutama yang berasal dari radiasi panas matahari secara langsung.
 Konsumsi Ransum dan Pertambahan Bobot Tubuh
Tambahan bobot tubuh kambing yang dipelihara dalam kandang dengan naungan atap lebih tinggi daripada kambing yang dipelihara di kandang tanpa naungan atap. Hal ini disebabkan karena konsumsi ransum ternak di kandang dengan naungan atap adalah lebih besar jika dibandingkan dengan kambing tanpa naungan atap.
Konsumsi ransum pada kambing yang dipelihara tanpa naungan atap lebih rendah daripada ternak yang dipelihara di bawah naungan atap. Hal ini disebabkan karena kambing tanpa naungan atap mengalami cekaman atau beban panas yang lebih besar, sehingga terpaksa menurunkan tingkat konsumsi pakannya sebagai upaya untuk mengurangi produksi panas tubuh untuk mencegah cekaman atau beban panas yang semakin besar. Semakin besarnya penurunan beban panas yang dialami oleh ternak di dalam kandang dengan naungan atap menunjukkan bahwa energi yang dapat dimanfaatkan untuk proses-proses metabolisme pada ternak di bawah naungan atap lebih besar jika dibandingkan dengan energi yang terpaksa digunakan untuk proses termoregulasi pada ternak tanpa naungan atap.
Beberapa peneliti juga melaporkan bahwa suhu lingkungan mempengaruhi konsumsi pakan. Krogh (2000) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan adalah suhu lingkungan. Suhu ruangan di bawah thermoneutral menyebabkan kosumsi pakan ternak meningkat, sedangkan suhu ruangan di atas kisaran tersebut menyebabkan penurunan konsumsi pakan. Penurunan konsumsi pakan, antara lain disebabkan oleh meningkatnya konsumsi air minum yang digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh terhadap suhu lingkungan yang bertambah panas.
BAB III
PENUTUP
 Kesimpulan
  • Suhu dan radiasi matahari pada kandang tanpa atap atau tanpa naungan atap lebih tinggi daripada kandang dengan naungan atap. Sebaliknya kelembaban dalam kandang tanpa naungan atap lebih rendah daripada di dalam kandang dengan naungan atap
  • Jenis atap tidak mempengaruhi suhu udara, kelembaban udara, dan radiasi matahari dalam kandang
  • Kandang beratap rumbia menyebabkan respons suhu rektal lebih rendah dibandingkan dengan kambing yang ada di dalam kandang beratap genteng dan seng pada pengamatan siang, malam, dan rataan harian. Kandang beratap genteng menyebabkan suhu rektal ternak kambing lebih rendah dibandingkan ternak beratap seng pada pengamatan siang dan rataan harian, namun pada pengamatan malam hari tidak berbeda;
  • Kandang beratap rumbia menyebabkan respons frekuensi pernafasan lebih rendah dibandingkan dengan ternak beratap seng baik pada pengamatan siang maupun rataan harian, sedangkan dibandingkan dengan ternak beratap genteng tidak berbeda.
  • Kambing yang dipelihara pada kandang tanpa naungan atap memiliki frekuensi pernapasan dan denyut jantung yang lebih tinggi daripada kambing di bawah naungan atap
  • Konsumsi ransum pada kambing yang dipelihara tanpa naungan atap lebih rendah daripada ternak yang dipelihara di bawah naungan atap
  • Penggunaaan naungan atap menghasilkan kondisi iklim yang lebih nyaman jika dibandingkan tanpa naungan atap, yang ditunjukkan oleh lebih rendahnya respons suhu rektal, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung, serta pertambahan bobot tubuh kambing PE yang lebih tinggi. 
 Saran
Sebaiknya para peternak menggunakan kandang yang menggunakan atap untuk memelihara hewan ternak agar daging ataupun susu yang didapatkan lebih optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, 1970. Phase Boundary Water in Frosen Solls. Us Army CorpsCIF ENG. Cold Regions CES. And Eng. Lab. Ra. 274. 17 p
Franson, 1997. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi 4. Gadjah Mada. University press: yogyakarta
Krogh, 2000. http://wikipedia.com ( diakses pada tanggal 14 Oktober 2012 pukul 20: 30 WITA)
Mangkuwidjojo, 1988. Bersahabat dengan Hewan. Gadjah Mada. University Press. Yogyakarta
Mc Dowell, 1972. Vitamin in Animal Homnon. Academic press-cnc Harcount Brace Jouanovich Publisher, San Diego, LA
Purwanto,et al, 1996. Psikologi Pendidikan. Remaja Rosdakarya: Bandung
Qiston, 2007. Http://wikipedia.com. (diakses pada tanggal 14 oktobber 2012 pukul 19:00 WITA)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar